Banyak orang memulai proses membeli rumah dengan mencari lokasi atau melihat foto-foto properti, padahal langkah pertama yang paling penting justru dilakukan di atas kertas. Sebelum survei, sebelum negosiasi, bahkan sebelum menghubungi agen, Anda perlu tahu dulu berapa sebenarnya kemampuan finansial Anda. Memahami angka ini sejak awal akan menyelamatkan Anda dari keputusan yang menyesal di kemudian hari.
Kenali Batas Aman Cicilan Bulanan
Titik awal yang paling sering digunakan oleh bank dan perencana keuangan adalah aturan sederhana soal rasio cicilan terhadap penghasilan. Secara umum, total cicilan bulanan Anda, termasuk KPR dan utang lain seperti cicilan kendaraan atau kartu kredit, sebaiknya tidak melebihi sekitar tiga puluh hingga empat puluh persen dari penghasilan bersih per bulan.
Misalnya, jika penghasilan bersih Anda adalah Rp 7 juta per bulan, batas amannya adalah sekitar Rp 2,1 juta hingga Rp 2,8 juta untuk seluruh cicilan. Jika sudah ada cicilan kendaraan sebesar Rp 800 ribu, maka sisa ruang untuk cicilan KPR hanya sekitar Rp 1,3 juta hingga Rp 2 juta. Dari angka cicilan inilah Anda bisa memperkirakan kisaran harga rumah yang bisa dijangkau.
Selain aturan cicilan, ada patokan lain yang sering dipakai, yaitu harga rumah ideal umumnya berkisar empat hingga lima kali penghasilan tahunan keluarga. Ini bukan angka mutlak, tetapi berguna sebagai titik referensi awal sebelum Anda masuk lebih dalam ke perhitungan.
Hitung Kebutuhan Uang Muka
Uang muka atau DP adalah dana awal yang harus Anda siapkan sebelum KPR cair. Besarnya diatur melalui kebijakan Loan-to-Value Bank Indonesia dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Untuk KPR komersial rumah pertama, DP umumnya berkisar antara lima hingga dua puluh persen dari harga properti, tergantung kebijakan bank yang berlaku saat Anda mengajukan.
Semakin besar DP yang Anda siapkan, semakin kecil pokok pinjaman dan semakin ringan cicilan bulanan. Ini juga sering mempengaruhi suku bunga yang ditawarkan bank. Sebaiknya, selain menabung untuk DP, Anda juga menyisihkan cadangan dana agar tidak langsung habis setelah membayar uang muka.
Untuk calon pembeli dengan penghasilan terbatas, ada pilihan yang lebih terjangkau melalui program subsidi pemerintah. Program FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) misalnya, menawarkan suku bunga yang jauh lebih rendah dibanding KPR komersial dan DP yang sangat ringan. Syarat utamanya antara lain belum pernah memiliki rumah, belum pernah menerima subsidi perumahan sebelumnya, dan penghasilan di bawah batas yang ditetapkan pemerintah. Informasi lengkap tentang program ini bisa Anda cek langsung di situs resmi BTN sebagai bank penyalur utama.
Jangan Lupakan Biaya Tambahan
Ini adalah jebakan yang paling sering dialami pembeli rumah pertama. Harga yang tertera di brosur atau iklan adalah harga propertinya saja. Namun ketika transaksi terjadi, ada sejumlah biaya lain yang harus Anda tanggung.
Beberapa biaya yang umumnya menjadi tanggung jawab pembeli antara lain:
- BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), dihitung berdasarkan nilai transaksi dikurangi nilai bebas pajak yang berbeda di tiap daerah dan diatur oleh pemerintah daerah setempat.
- Biaya AJB (Akta Jual Beli) yang dibayarkan kepada PPAT, umumnya sekitar satu persen dari nilai transaksi.
- Biaya balik nama sertifikat, yang juga dihitung dari nilai transaksi.
- Untuk pembelian dengan KPR, ada tambahan biaya provisi, administrasi, asuransi jiwa, dan asuransi kebakaran yang besarnya bervariasi antar bank.
- Jika membeli properti baru dari developer, biasanya ada PPN yang ikut dibebankan.
Secara keseluruhan, total biaya tambahan ini bisa mencapai lima hingga sepuluh persen dari harga properti. Karena itu, sangat disarankan untuk menganggarkan dana cadangan di luar DP dan harga rumah itu sendiri. Selalu konsultasikan rincian biaya ini kepada notaris atau PPAT sebelum menandatangani perjanjian apa pun.
Pahami Jenis Sertifikat dan Dampaknya pada Pembiayaan
Status legalitas tanah turut mempengaruhi kemampuan Anda mendapatkan KPR. SHM (Sertifikat Hak Milik) adalah bentuk kepemilikan penuh dan permanen, hanya bisa dimiliki Warga Negara Indonesia, dan paling mudah diterima sebagai agunan oleh bank. Sementara SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan) memiliki masa berlaku terbatas dan dapat diperpanjang.
Sebelum membeli, pastikan Anda mengetahui jenis sertifikat properti tersebut dan apakah bank yang Anda tuju mau menerimanya sebagai agunan. Anda juga bisa memverifikasi keaslian sertifikat melalui kantor ATR/BPN setempat. Mengabaikan hal ini bisa membuat pengajuan KPR Anda terhambat atau bahkan ditolak.
Persiapkan Riwayat Kredit yang Bersih
Bank tidak hanya melihat besarnya penghasilan saat memutuskan apakah KPR Anda disetujui. Riwayat kredit Anda di SLIK OJK (sistem informasi kredit yang diakses bank) adalah salah satu faktor penentu utama. Jika ada tunggakan pinjaman, kredit macet, atau catatan negatif lainnya, pengajuan KPR Anda berisiko ditolak meski penghasilan mencukupi.
Beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mempersiapkan riwayat kredit yang baik:
- Lunasi semua utang yang menunggak sebelum mengajukan KPR.
- Hindari membuka pinjaman baru menjelang pengajuan, karena ini meningkatkan rasio utang yang dinilai bank.
- Bayar tagihan kartu kredit tepat waktu, setidaknya enam bulan sebelum pengajuan.
- Jika tidak yakin dengan kondisi kredit Anda, Anda bisa meminta laporan SLIK secara mandiri melalui laman resmi OJK.
Sisihkan Dana Darurat Sebelum Membeli
Membeli rumah bukan berarti semua tabungan Anda harus habis untuk DP dan biaya transaksi. Justru sebaliknya, pemilik rumah baru membutuhkan dana darurat yang lebih besar karena tanggung jawab finansial yang bertambah.
Biaya yang sering muncul setelah membeli rumah antara lain renovasi awal, pembelian furnitur, perbaikan sarana dan prasarana, serta iuran pengelola jika Anda tinggal di kawasan perumahan. Di Banjarmasin dan sekitarnya, faktor lingkungan seperti kondisi tanah yang bisa mengalami penurunan atau risiko banjir di kawasan tertentu juga perlu diantisipasi dengan dana cadangan untuk perbaikan tambahan.
Sebagai panduan umum, pertahankan dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran setelah semua transaksi selesai. Ini adalah jaring pengaman penting agar cicilan KPR Anda tetap terbayar bahkan ketika ada pengeluaran tak terduga.
Bandingkan Pilihan Bank Sebelum Memutuskan
Satu kesalahan yang sering dilakukan pembeli pertama adalah langsung menerima penawaran KPR dari bank pertama yang mereka datangi. Padahal, perbedaan suku bunga antar bank bisa berdampak signifikan pada total pembayaran selama masa kredit puluhan tahun.
Saat membandingkan penawaran KPR, perhatikan beberapa hal berikut:
- Suku bunga di tahun-tahun awal dan setelah masa bunga tetap berakhir.
- Total biaya selama masa kredit, bukan hanya angka cicilan per bulan.
- Syarat dan denda pelunasan dipercepat.
- Kemudahan proses pengajuan dan layanan bank tersebut.
Jangan ragu untuk bernegosiasi atau meminta simulasi dari beberapa bank sebelum membuat keputusan.
Kesimpulan
Menghitung kemampuan finansial sebelum membeli rumah bukan tentang membatasi impian, melainkan tentang menemukan jalan yang paling realistis menuju rumah tersebut. Mulai dari aturan cicilan, persiapan uang muka, biaya tambahan, hingga kondisi kredit, setiap elemen saling berkaitan dan perlu dipersiapkan bersama. Semakin matang persiapan Anda, semakin lancar proses yang akan dijalani.
Jika Anda sedang mencari properti di Banjarmasin atau ingin berdiskusi lebih lanjut soal pilihan yang sesuai kemampuan finansial Anda, tim Vorneo Property siap membantu melalui WhatsApp kapan pun Anda butuhkan.